Jalan Gajah Mada, Bandung

Sampai saat ini, di wilayah Bandung khususnya dan wilayah Sunda pada umumnya tidak pernah ada jalan atau gedung bernama Gajah Mada maupun nama lain yang berhubungan dengan kerajaan Majapahit. Hal ini mungkin terdengar kecil akan tetapi ada hikmah yang besar dari tidak digunakannya nama tersebut, padahal kebesaran nama Mahapatih Gajah Mada atau kerajaan Majapahit di Nusantara tidak diragukan lagi sejak jaman dahulu kala, jadi sudah selayaknya diberikan kehormatan dengan mengabadikan namanya.

Gajah Mada

Yang menjadi sebab tidak digunakannya nama Gajah Mada di wilayah Bandung/Sunda berawal dari cerita Perang Bubat, disini saya gunakan istilah cerita, bukan sejarah karena perang Bubat sendiri masih kontroversi dikalangan para ahli sejarah, kisah perang ini bersumber bukan dari sebuah catatan sejarah berupa prasasti atau lainnya, tetapi berdasarkan Kidung Sunda atau Kidung Sundayana yang di wilayah Bali lebih dikenal dengan Geguritan Sunda. Bahkan sampai saat ini pun, dalam penulisan cerita atau pun sejarah mengenai perang ini sangat “rasis”, dalam arti isi cerita tergantung dari sudut pandang si penulis sehingga “ego” kesukuan (sunda dan ataupun jawa) sangat berpengaruh.

Kejadian ini diawali suatu niat baik Maharaja Hayam Wuruk raja Majapahit, yang mempunyai maksud untuk memperistri Putri Dyah Pitaloka Citaresmi anak dari Maharaja Linggabuana raja kerajaan Sunda, keinginan tersebut muncul selain melihat kecantikan Putri Dyah Pitaloka yang beliau lihat dari lukisan, juga untuk mendekatkan kembali hubungan tali persaudaraan, berdasarkan garis keturunan Maharaja Hayam Wuruk merupakan keturunan sunda, karena Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit adalah keturunan sunda, dan Raden Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Padjajaran.

Niat baik Raja Hayam Wuruk ini disampaikan kepada kerajaan Sunda, namun tanggapan pertama yang muncul adalah pertentangan dari kalangan kerajaan Sunda khususnya dari mangkubuminya sendiri yaitu Hyang Bunisora Suradipati, karena tidak lazim dan bukan merupakan adat di Nusantara khusus Sunda, jika pihak pengantin perempuan yang datang kepada pihak pengantin laki-laki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik karena saat itu Majapahit sedang melebarkan kekuasaan. Dengan Sumpah Palapa nya Mahapatih Gajah Mada, hampir seluruh Nusantara dapat dikuasi oleh Majapahit, akan tetapi wilayah Kerajaan Sunda yang merupakan tetangga Majapahit tidak dapat dikuasai. Sebagai seorang raja yang bijaksana dan selalu berfikir positif, Maharaja Linggabuana memutuskan tetap berangkat ke Majapahit karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut, rasa persaudaraannya tersebut telah menghilangkaan kecurigaannya.

Singkat cerita, waktu pernikahan pun tiba, pihak kerajaan Sunda menyiapkan rombongan iring-iringan perkawinan menuju kerajaan Majapahit. Layaknya rombongan iring-iringan perkawinan, rombongan ini pun tidak bersenjatakan lengkap, hanya sebatas persenjataan untuk perlindungan diperjalanan, dan hanya membawa pasukan pengawal Raja.

Niat baik tidak lah salalu ditanggapi dengan kebaikan pula, hal ini juga terjadi pada Maharaja Linggabuana dan Putri Dyah Pitaloka, niat baik kerajaan Sunda ditanggapi oleh Mahapatih Gajah Mada dengan nafsu menguasai wilayah Sunda untuk menjalankan Hamukti Palapa setelah mendengar kabar dari utusan Maharaja Linggabuana yang menyampaikan berita kedatangan rombongan dari kerajaan Sunda, maka dicarilah suatu alasan oleh Mahapatih Gajah Mada bahwa kedatangan tersebut dianggap sebagai tanda penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Strategi licik tersebut dilakukan karena kerajaan Majapahit tidak sanggup menaklukan kekuasaan kerajaan Sunda dengan cara invasi.

Akhirnya Mahapatih Gajah Mada mendesak Maharaja Hayam Wuruk untuk menerima Putri Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui keunggulan Majapahit atas Sunda di Nusantara. Menanggapi pendapat yang diajukan oleh Mahapatih Gajah Mada, Maharaja Hayam Wuruk sendiri bimbang atas permasalah itu karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit saat itu. Hal inilah yang menjadikan perselisihan sehingga utusan kerajaan Sunda marah besar dengan Mahapatih Gajah Mada sampai utusan kerajaan Sunda ini memaki-maki Mahapatih Gajah Mada, karena utusan kerajaan Sunda terkejut dengan ucapan Mahapatih Gajah Mada, bahwa rombongan Kerajaan Sunda datang bukan sebagai rombongan pengantin tetapi sebagai rombongan yang akan memberikan tanda takluk dan mengakui keunggulan kerajaan Majapahit bukan karena undangan seperti rencana sebelumnya.

Belum lagi Maharaja Hayam Wuruk memberikan keputusannya, Mahapatih Gajah Mada sudah tidak sabar menunggu keputusan Raja sehingga dengan inisiatif sendiri dalam memanfaat kesempatan yang muncul untuk menguasai kerajaan Sunda dengan mengirimkan pasukannya ke pesanggrahan Bubat.

Mahapatih Gajah Mada berserta pasukannya menekan dengan mengacam dan mengintimidasi Maharaja Linggabuana untuk mengakui atas keunggulan kerajaan Majapahit. Sebagai raja kerajaan Sunda sekaligus kesatria Sunda, Maharaja Linggabuana tidak takut sedikitpun dengan ancaman yang sampaikan oleh Mahapatih Gajah Mada beserta pasukan walaupun rombongannya tidak bersenjatakan lengkap, dan dengan tegas Maharaja Linggabuana menolak tekanan dari pasukan Mahapatih Gajah Mada.

Akhirnya peperangan tidak seimbang sudah tidak dapat terelakan kembali antara pasukan Mahapatih Gaja Mada dengan rombongan kerajaan Sunda yang hanya terdiri dari pasukan pengawal kerajaan yang berjumlah sedikit, beberapa pejabat, dan beberapa menteri. Peperangan ini merupakan ladang pembantaian bagi rombongan kerajaan Sunda.

Sebagai seorang kesatria wanita Putri Dyah Pitaloka pun ikut bertempur dalam mempertahankan harga diri bangsanya sampai titik darah penghabisan, dan dalam pertarungan melawan Mahapatih Gajah Mada, Putri Dyah Pitaloka berhasil melukai Mahapatih Gajah Mada dengan Keris Singa Barong berlekuk 13, keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri kerajaan Tarumanegara yang bernama Prabu Jayasinga Warman. Luka yang diderita oleh Mahapatih Gajah Mada tidak dapat disembuhkan sampai beliau meninggal.

Kejadian di pesanggrahan Bubat tersebut, tidak menghasilkan keuntungan apapun, tidak sesuai dengan perkiraan semula Mahapatih Gajah Mada, bahkan sebaliknya hubungan antara Mahapatih Gajah Mada dengan Maharaja Hayam Wuruk menjadi renggang, dengan kesatria sebagai pertanggungjawaban atas kesalahannya Mahapatih Gajah Mada mengundurkan diri sebagai Mahapatih dan mengasingkan diri di sebuah desa yang sekarang bernama desa Mada dan beliau juga harus menderita luka akibat sabetan keris Putri Dyah Pitaloka, inilah akibat yang ditanggung oleh beliau dihari tuanya sampai akhir hayat akibat hawa nafsu yang beliau ikuti. Hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda menjadi renggang bahkan sudah tidak dapat disatukan kembali, seperti kaca yang sudah pecah. Kerajaan Sunda sudah tidak mempercayai kembali pihak kerajaan Majapahit, walaupun Maharaja Hayam Wuruk telah mengirimkan wakilnya untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Hyang Bunisora Suradipati mewakili pihak kerajaan Sunda. Sampai akhirnya kerajaan Sunda mengeluarkan peraturan kepada rakyatnya untuk tidak menikah dengan orang dari luar lingkunan kerabat sunda.

Sekitar kurang lebih 6 abad kejadian ini terjadi telah berlalu namun akibatnya sampai saat ini masih ada, hal ini bisa terlihat dari pakem perihal perjodohan yang masih banyak dipegang oleh sebagian para orang tua di Sunda dalam menentukan calon suami/istri untuk anak-anaknya. Kejadian ini pula menjadi luka yang tak tersebuhkan dihati orang Sunda, sampai mereka tidak sudi menggunakan nama Gajah Mada dalam kehidupan sehari-harinya seperti untuk nama jalan maupun gedung.

Mungkin jika luka yang digoreskan oleh Mahapatih Gajah Mada di hati masyarakat Sunda sudah sembuh, baru ada nama jalan Gajah Mada. Atau mungkin sudah saatnya masyarakat Sunda belajar memaafkan kejadian tersebut. Karena jika Maharaja Hayam Wuruk mengetahui bukan hanya beliau yang gagal menikah gara-gara tindakan Mahapatih Gajah Mada, akan tetapi ribuan pasang kekasih yang telah gagal atau mungkin akan gagal akibat kejadian tersebut dalam kurun waktu yang belum diketahui sampai kapan pakem itu berakhir, pasti Maharaja Hayam Wuruk akan mengambil keputusan tegas untuk melarang Mahapatih Gajah Mada melakukan tindakan yang tidak kesatria tersebut.


Wallahu a’lam…


Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Bubat
http://www.kasundaan.org

About these ads
    • goseni
    • Oktober 26th, 2008

    Menurut prasasti pararangon, justru perang bubat menghasilkan perjanjian bahwa Majapahit menempatkan 1 perwakilannya di Sunda dan kerajaan Sunda berada di bawah hegemoni Majapahit secara otonomi.

      • dildaar80
      • Januari 16th, 2011

      Prasasti Pararangon ada dimana ya?

    • yoga
    • November 11th, 2008

    urang sunda g akan pernah dijajah oleh jawa

    • Kidang Pananjung
    • Desember 21st, 2008

    Setahu saya, Gajah Mada itu sejenis hewan purba. Wajar saja di Bandung nggak ada jalan Gajah Mada yang hewan purba itu.

    Masa di Bandung yang orang2nya (terutama ceweknya yang cantik kuning langsat) merelakan kotanya diberi nama jalan Hewan Kotor.

    Kalo Jawa Koek bilang di Bandung nggak ada jalan Gajah Mada. Boleh dong aku juga pengin tahu, kenapa di Surabaya nggak ada JALAN SILIWANGI…?

    Dasar Jawa

  1. Perihal ini kemungkinan akibat dari Palagan Bubat yang menyebabkan terjadinya kerenggangan hubungan antara Sunda-Galuh di barat dengan Majapahit di timur. Sehingga timbul peraturan “estri larangan ti kaluaran” yang maksudnya keturunan laki-laki Sunda-Galuh tidak boleh menikahi secara resmi keturunan selain Sunda-Galuh, dalam hal ini yang dimaksud adalah keturunan Majapahit. Hingga akhirnya pada masa kini wajar kalau di kota-kota Jawa Barat tidak ditemukan satupun nama2 yang berbau Majapahit.

    Menurut versi lain, hal ini merupakan taktik “Devide et Impera” kolonial Belanda, dalam upaya memecah belah bangsa dengan mengacak-acak sejarah. Namun adanya data-data naskah kuno baik yang dari peninggalan kerajaan Sunda maupun Cirebon tidak membuktikan hal ini.

    Sejatinya, ambisius Gajah Madalah yang ingin menyatukan Nusantara lewat sumpahnya mengantarkan Majapahit dalam perang yang tidak “gentle”. Hayam Wuruk sendiri sebenarnya berseberangan dengan Gajah Mada, karena merasa dirinya merupakan trah dari Sunda (Raden Wijaya bergelar Jaka Susuruh Pakuan keturunan Sanjaya Penguasa Sunda, Galuh dan Mataram Kuno)).

    Kerajaan Sunda dalam sejarahnya tidak pernah terkalahkan dalam perang secara frontal, 2 kali diserang Majapahit, 15 kali diserang Cirebon, dan 3 kali diserang Banten tetap bertahan. Terakhir oleh Banten hanya dapat membawa Sriman (kursi penobatan raja) oleh pasukan khusus gerilya (Tambuh Sangkane) Banten, dan itupun karena adanya pengkhianatan dari seorang penjaga pintu gerbang Pajajaran.

    Wallahualam,

    • delon
    • Januari 28th, 2009

    sebelum tanah di jawa ini panas tanah key di tempat beta panas duluan

    • Ken arok
    • Februari 24th, 2009

    Only smart people can win the war…..
    Hidup Gajah Mada

    • Ichwan
    • Februari 27th, 2009

    Wah sudahlah tak usah mengangkat semangat ras. Buktinya orang Sunda banyak kok yang kuliah di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta dan orang Jawa juga banyak kuliah di Universitas Pajajaran di Bandung. Itu adalah bukti bahwa tak ada masalah ras antara Jawa dan Sunda. Anggap saja ini memang satu keunikan khas Bandung. Lagipula nggak sepenuhnya benar, di Cimahi (yang notabene pernah jadi bagian Kabupaten Bandung dan masih sering ditulis ‘Cimahi, Bandung’ sampai sekarang) ada kok Jalan Gajah Mada, walaupun cuma jalan kecil

      • dildaar80
      • Januari 16th, 2011

      Nggak ada yg maksa kok harus ada jalan Gajah Mada di Bandung.
      Di Semarang ada Jalan Siliwangi…he he

    • TheOne
    • Maret 7th, 2009

    @kidang panajung.
    dari dulu sampai sekarang belum ada juga pemimpin di Indonesia dari sunda.

    buat apa cantik2 wanitanya kalo cuman tukang pelorot harta?? kenapa ga pelorot celana aja??
    :D

    PiSs…!!!

    • poehariff
    • Maret 22nd, 2009

    Mahapatih GM yg kesohor kena sabet keris putri sunda.imajinasi penulis gede banget!!emangin GM jenis panglima lemah smp bisa dilukai putri sunda.GM uda invasi ke mana2 g pernah keok, khayal bag!!buat gusman igt sunda galuh jatuhnya akibat invasi banten.ksh data sejarah yg bener yo!

    • Yusnita Achmad
    • Maret 27th, 2009

    Aduh, gimana yah. Sebagai orang Betawi, saya merasa Jawa dan Sunda adalah dua suku yang deket banget. Malah hampir seperti saudara. Selain letak geografis yang menyatukan asal ketiga suku dalam satu pulau, banyak juga perkawinan yang terjadi di antara suku-suku tersebut. Perkawinan antara orang dari suku Betawi dengan suku Jawa, orang dari suku Jawa dengan suku Sunda, atau orang dari suku Betawi dengan suku Sunda sudah lazim terjadi di masyarakat kita. Oleh karena itu, janganlah terlalu ekstrim begitu, wahai kawanku! Saya yang dari suku Betawi dan dua teman saya yang berasal dari suku Jawa dan suku Sunda sedang merantau di pulau Kalimantan sekarang. Beruntung sekali persaudaraan kami semakin erat bukan hanya karena berasal dari satu pulau merantau ke pulau lain, tetapi juga karena pengertian dan saling menghormati yang selalu kami jaga. Jadi, sekali lagi, ora uenak euy berantem mulu.

    • Ki Ageng Mangir
    • April 7th, 2009

    BREAKING NEWS: Saat ini sedang dipersiapkan proses produksi Film Kolosal Layar Lebar dan Mega Sinetron dengan judul ‘MAHAPATIH GAJAH MADA’ produksi PT Tawi Nusantara Film – Pamulang bekerjasama dengan Kraton Tirto Wening – Cimone, dengan Sutradara Renny Masmada yang telah mempelajari Sejarah Mahapatih Gajah Mada selama 20 Tahun. Kini sudah bisa dilihat pembuatan setting & property-nya di lokasi shooting di Kp. Cogrek Ds. Peusar Kec. Panongan Cikupa-Tangerang. Mohon doa & restu. Terima kasih (PT TNF PUBLICATION DEPT)

    • Roelly
    • April 12th, 2009

    PERANG BUBAT ? Oo.. itu sih cuma fiksi.

    Syair “Kidung Sunda” atau versi sederhananya “Kidung Sundayana” yang menceritakan tentang perang Bubat tidak diketahui siapa penulisnya dan kapan tepatnya ditulis. Jika dilihat dari bahasa jawa kuno yang dipakai, diperkirakan syair ini dikarang sekitar abad ke-16. Apalagi didalamnya disebut-sebut tentang senjata api (orang Indonesia baru kenal mesiu sekitar abad-16 juga). Terdapat jarak waktu sekitar dua abad antara penulisan syair ini dengan era pemerintahan Hayam Wuruk.

    Dipastikan syair “Kidung Sunda” adalah hanya sekedar karya sastra dan sama sekali bukan merupakan catatan sejarah. Dalam Kitab Negarakretagama yang merupakan catatan akurat mengenai situasi & kondisi pemerintahan raja Hayam Wuruk dan ditulis sekitar 1 tahun sepeninggal patih Gajah Mada, tidak ditemukan catatan mengenai Perang Bubat. Hanya disebutkan bahwa Desa Bubat adalah desa berpantai yang memiliki tanah lapang yang luas, raja Hayam Wuruk pernah mengunjunginya untuk melihat pertunjukkan seni dan hiburan.

    Kuat dugaan karya sastra “Kidung Sunda” ini sengaja dipublikasikan seolah-olah merupakan kenyataan oleh penjajah (Belanda), untuk tujuan memecah-belah suku-suku yang ada di pulau Jawa.

    Jadi, masihkah kita mempertahankan semangat sentimen kesukuan (etnosentrisme) hanya gara-gara cerita fiksi belaka. Ingat ! kita terpecah-pecah karena kelakuan penjajah !

    Buat tuan Kidang Pananjung, tolong jangan kirim komentar jika nggak pake kesopanan otak dan mulut. Saya orang Bekasi Jawa Barat, malu juga baca postingan tuan.

    • Jowo Unggul
    • Mei 14th, 2009

    Aku masih ingat ketika kul di ITB dulu (tahun 83), sebagai orang Sunda, aku mencoba untuk menjalin persaudaraan sebangsa dengan suku manapun. Namun sayang, ketika aku berdialog dengan Saudara yg. bersuku Jawa, aku menangkap aroma superiorotas dari rekan suku Jawa. Silakan ditafsirkan sendiri makna yg. terkandung pada pembicaraan di bawah ini:

    – Suku Jawa lebih “Tua” dari suku Sunda
    – ITB kan di Bandung, tapi kenapa ya mahasiswanya kok malah kebanyakan orang Jawa (suku Jawa; red)
    – Kenapa ya orang Sunda nggak mau disebut orang Jawa?
    – Kenapa ya di Jawa Barat tidak ada jalan Gajah Mada & Hayam Wuruk? (tanpa menyadari di Jawa Timur pun tdk ada jalan Siliwangi & Pajajaran)
    – Adanya NKRI kan berkat jasa Gajah Mada

    Silakan ditafsirkan, mengapa selalu muncul kalimat-kalimat seperti itu & sejenisnya?

    • Sumedang larang
    • Mei 18th, 2009

    Apa pentingnya & apa maknanya Gajah Mada bagi Rakyat Parahyangan / Tatar Sunda (bukan Jawa Barat). Nonsens lah.

    Lagian malu, di Tatar Sunda pake jalan Gajah Mada. Nggak pantes bagi wilayah yg orang2nya lemah lembut & penuh sopan santun menggunakan nama jalan Gajah Mada yg terkesan Kasar, Serakah, Nubruk sana, nubruk sini & Licik.

    Kami selama ini nggak pernah mempermasalahkan atau menuntut di Jawa Tengah atau di Jawa Timur harus ada jalan Siliwangi atau Padjajaran. Maka tidak etis rasanya suku lain (Jawa) selalu mengungkit-ungkit masalah tsb., dll. Sungguh selalu memancing keributan antar suku. Kapankah Saudaraku (suku Jawa) akan berhenti memancing2 suku2 lain?

    • bekaro
    • Juni 6th, 2009

    Wa…wa kalo liat postingan ini jadi ngeri. Ada provokator yg bernama kidang pananjung. Sejarah ini fiktif kenapa harus jadi pemicu etnis gini, jangan jadi orang bodoh yang mudah dipecah-belah. Masing-masing daerah punya keunikan sendiri, keunggulan sendiri dan juga pastinya kekurangan sendiri. HIDUP INDONESIA !!!

    • budisetianto
    • Juni 25th, 2009

    saya orang jawa punya istri orang sunda.. ayolah kita semua adalah saudara.. dan yang membedakan kita dimata Allah hanyalah iman dan amal kita saja…

    peacee..

    • saipulna
    • Juli 2nd, 2009

    ya udahlah jngan terlalu mempermasalahkan isu Ras antara Jawa ama Sunda.tapi kalaw ada yang bilang orang sunda ga pernah jadi pemimpin negara alias presiden gpp,tapi ingat negara indonesia yang banyak jadi koruptor itu dari mana Maaan…he he…

  2. saya suku sunda istri orang jawa totok, adem adem saja…perbedaan jadi kekuatan….menurut hemat saya, dulu itu hanya kegagalan diplomasi saja….,sekarang ambil hikmah nya saja dan baik sangka…tks….amin

    • girich
    • Juli 14th, 2009

    Yang nulis di sini ada yg pinter dan ada yg goblok.
    Buat apa kita ngeributin masa lalu,biarkan saja menjadi sejarah dan jgn sampai ada kejadian lagi.jadikan mata pelajaran.
    Mari kita sekarang,sama-sama bangun Negeri ini,jgn smp ketinggalan dgn negara lain.

    • Indon
    • Juli 15th, 2009

    “Cerita Perang Bubat” is definitely 100% psyops of the Dutch colonial government to induce confessions or reinforce attitudes and behaviors favorable to the originator’s objectives in which the political tactics “divide et impera”

    ..and unfortunately it did work.. shame on us..

    thus, our beloved country is fertile field to obtain black agenda especially from the western such as CIA, MI6, you name it..

    • abdulloh
    • Juli 17th, 2009

    utk yoga dan orang2 yg rasis! : Jawa dan sunda sama saja! ga ada yg lebih unggul antara jawa dan sunda! di mata Alloh semua manusia sama saja, kecuali orang2 yg beriman, bertaqwa dan beramal soleh sesuai syariat Islam yg Lurus dgn berpegangan teguh kpd Al Quran dan As sunnah! Islam diutus utk memberantas budaya adat istiadat segala macam nenek moyang yg Jahil dan syirik!! dan Islam juga di utus sbg kabar gembira bagi orang2 yg beriman, bertaqwa ttg kabar Jannah yg kekal!

    • bagus
    • Juli 21st, 2009

    Ah .. come on, Maann ..!
    The world is flat, now.
    Sekarang kita berhubungan dengan orang seluruh dunia. Kita tergantung satu sama lain.
    Kenapa masih muncul pikiran-pikiran rasis dan bodoh ?
    Wake up .. wake up !

  3. saya landy seorang anak yang lahir dari bp sunda ibu jawa. kata saya udah lah jangan di permasalahkan kejadian kecelakaan sejarah tersebut…kita mengakui kalau majapahit dulu adalah kerajaan besar, raja2 majapahit pun keturunan raja2 sunda,gajah mada menurut salah satu sumber cerita merupakan salah seorang patih yang berdarah minang yang mengabdi kepada kerajaan majapahit.majapahit memang kerajaan besar,tetapi kenapa tidak mau menyerang ke kerajaan pajajaran diwilayahnya.pajajaran adalah kerajaan yang kuat di daratan tetapi pajajaran tidak pernah memperluas wilayahnya karena dari mulai raja wastukencana turun ke cucunya sri baduga maharaja (prabu wangi)dan turun lagi ke cucu sri baduga maharaja, raja lingga buana (prabu siliwangi)adalah raja2 yg cinta kedamaian,dan kita jangan berburuk sangka kepada gajah mada juga gajah mada berambisi mempersatukan seluruh wilayah nusantara untuk satu tujuan agar nusantara bisa kuat dan tidak di kucilkan oleh bangsa2 lain seperti mongol persia dan romawi gajah mada pernah berkata kepada kilingan (salah satu panglima perang majapahit)“Kita akan kuat dengan BERSATU ,tak akan ada yang berani dengan kita dan kita tak akan dilecehkan oleh orang seperti Khubilai Khan atau bangsa Persia dan Romawi sekalipun.”.yang terpenting sekarang kita sebagai pemuda bersatu membangun indonesia yang lebih baik jangan sampai terpecah belah,bisa jadi juga cerita perang bubat adalah rekaan orang belanda dengan ambisi politiknya devide atimpera,ingat pertama orang belanda menginjakan kaki pertamanya di indonesia di banten mereka bisa di usir,dan mereka kembali ke nusantara dan dapat menguasai wilayah nusantara dengan politik pecah belah……jaya indonesia

    • bertha braja
    • September 1st, 2009

    trimakasih atas bantuan nya…tugas sejarah ku jadi lebih mudah deh..

    • fadh
    • Desember 8th, 2009

    saya tidak percaya dengan adanya cerita tentang gajah mada, klu memang ada yang dinamakan patih gajah mada, yg selama berabad-abad diceritakan seolah-olah diagung-agungkan, mana buktinya ?
    Kalau pernah ada orangnya, dimana kuburannya ?
    toh saya juga percaya degan leluhur saya, sampai sekarang ada makamnya.
    Nabi MUHAMAD SAW, saja ada makamnya ?
    Coba buktikan !!!

      • amin
      • Januari 28th, 2010

      setuju …
      ngapain ungkit2 masa lalu.
      masa kita harus menanggung perbuatan orang lain.

      HIDUP adalah Hari ini
      Kemarina adalah sejarah
      ESOK adalah Mimpi dan Harapan

      peace ahh

      tarikk mang …

    • yang mengungkit masa lalau dari orang orang tua kita yang selalu mengatakan kalau anaknya orang jawa nikah dengan orang sunda tidak akan bener, dan itu pasti ada hubungannya dengan kejadian tersebut …. padahal anak nya sama sama cinta, bahkan rasis ini saya alami sendiri .

      • ery
      • Desember 20th, 2013

      HIDUP ADOLF HITLER

    • aing
    • Oktober 13th, 2010

    makanya jangan membuat masalah dengan kami(tanah pasundan), karena akan sulit untuk diakhiri,,,hidup persib

    • NoName
    • Oktober 29th, 2010

    perasaan superioritas orang jawa lah yang menyebabkan semua ini, sifat serakah itu seakan terbawa hingga saat ini, majapahit itu penjajah, dan gajah mada itu bapaknya penjajah dan pelopor korupsi, tak pantas dijadikan pahlawan indonesia, karena secara sadar atau tidak yang mempersatukan indonesia bukan majapahit tapi belanda!!!, kalau gak ada belanda indonesia mungkin gak pernah ada, karena yang ada mungkin, negara sunda, negara banten, negara melayu dan lain2…jadi STOP rasa sombong dan superioritas orang jawa kalau indonesia ingin lebih saling menghargai….

    • saya setuju dengan alasan anda, karena saya sering berbicara dengan orang trowulan mojokerto sebagai ibukota majapahit waktu itu, dia sendiri yang mengatakan bahwa majapahit terkenal dengan sombong dan serakahnya, bahkan ada cerita jga saking sombong nya ketika ada tamu dari kerajaan lain ketika selesai makan mereka selalu membuang piring dan gelas bekas makannya ke kolam … tapi kalau tamunya sudah pulang di ambil lagi heheheheheh ….

    • dildaar80
    • Januari 16th, 2011

    Menyangka Lembu Tal itu adalah perempuan karena nama ‘Lembu’ dimuka namanya adalah sangat keliru karena di naskah-naskah kuno banyak tokoh-tokoh Majapahit bernama awal ‘Lembu’ ternyata laki-laki contoh Lembu Sora, Lembu Peteng, Lembu Amiluhur dan seterusnya.
    Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.
    Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan. Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.
    Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singhasari membawa serta Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.
    Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.
    Berita di atas berlawanan dengan Nagarakretagama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya. Di antara berita-berita di atas, yang paling dapat dipercaya adalah Nagarakretagama karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365. Jadi, hanya selisih 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya.
    Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut Nagarakretagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.
    Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Pustaka Rajyarajya i Bhum Nusantara yang menyebut asal-usul R Wijaya dari Sunda ditulis ratusan tahun setelah runtuhnya Majapahit.
    Berbeda dengan Negarakertagama dan Prasasti Balawi yg ditulis beberapa tahun setelah wafatnya Dyah Wijaya yg menyebut memang Wijaya pribumi Jawa Timur. (gelar raden pas tahun itu belum ada/belum menjadi sebutan)
    Kalau Sanjaya dan Wijaya itu orang Sunda kenapa tdk dicandikan di daerah Sunda tetapi justru di Jawa Tengah dan Jawa Timur?
    Ada dua kemungkinan besar:
    1. Iya keduanya ada darah Sunda tetapi tidak sudi dicandikan di Jabar yg tidak menghormati mereka bahkan memusuhi. Bukti, ayah Raden Wijaya diracun justru oleh keluarga yg ingin tahtanya. Begitu pula permusuhan thd Sanjaya dlm cerita2 Parahiyangan.
    2. Memang mereka tidak berdarah Sunda.

    • dodol
    • Oktober 7th, 2012

    smua bermula dari slangkangan….hehehe

    • yahya arya pra mada. amar arya pasca mada ( nama anak)
    • April 27th, 2013

    sunda jawa sama saja, sama sama hidup di tanah indonesia. kita ini belajar dari sejarah ambil yang positifnya aja lah yang buruk dibuang. saya suka prabu siliwangi dulu waktu masih kecil malah sering nonton film nya ini yang baru film yang di tivi (kian santang) sering juga aku pelototin, . hayam wuruk saya juga suka baca sejarahnya di artikel2. klo gajah mada malah jadi nama anakku yang pertama dan kedua ada mada nya semua. sora, ranggalawe yang nota bene adalah orang madura tak ketinggalan jadi idola. pitung yang orang betawi pun tak luput mampir di hati. tomas matulesi (pattimura) juga gak ketinggalan. kalo seandainya lebih banya yang aku idolakan dari jawa dan madura itu wajar karna aku tinggal di jawa timur. (intinya sejarah itu bisa dibuat ditambah dikurangi disisipi dan dididididi lainya).

    jadi klo kita telan mentah mentah yo muntah lah. susah lo pahlawan pahlawan kita dulu membentuk indonesia. masak kita yang tinggal berkacak pinggang, petantang petenteng. makan enak tidur enak masi ribut ama masalah masa lalu yang benar tidaknya masih teka teki.

    SADAR KAWANNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!

    sedikit gambaran orang jawa (kebetulan saya orang jawa timur)

    orang jawa tengah itu cenderung kalem halus tutur bahasanya
    orang jawa timur itu cenderung keras tapi tidak semua jawa timur keras
    (kota blitar sampe perbatasan jawa timur ama jawa tengah cenderung kalem) malang surabaya madura cenderung keras dalam artian bahasanya)

    klo masalah superior atau tidak semua suku di indonesia, masing 2 punya kelebihan dan kekurangan pun tokoh tokohnya.

    HIDUP ITU PERJUANGAN KAWAN BERJUANG TIDAK HARUS DENGAN PERTIKAIAN DAN PERTENGKARAN SALING MENGHORMATI DAN BERSANDING RASANYA LEBIH TENTERAM (ING NGARSO SUNG TULODO ING MADYO MBANGUN KARSO TUT WURI HANDAYANI: di depan kita menjadi contoh di tengan kita bekerja keras yang di belakang kita juga harus mendorong jangan malah menarik).

    salam damai dari putra aryo blitar

    • dua_samudera
    • November 8th, 2013

    hahaha, emang unik, lucu dan misterius kalo kita melihat sejarah bangsa kita. ternyata kita bangsa yang besar dan sudah menorehkan sejarah sejak dulu. tanpa melupakan sejarah yang ada, kita harus bisa bertindak bijaksana terhadap masa depan, sejarah yang kita buat nantinya. Hidup Indonesia! (salam buat semua suku yang ada, kalian adalah perhiasan Indonesia)

  4. ^^^^Ya jelas gak ada presiden orang Sunda, orang hampir semua presiden Indonesia semuanya orang Jawa (ada sih org non Jawa, tapi itu pun scara tdk sengaja dan sangat singkat).

    Memangnya jalan Gajah Mada, Majapahit, Hayam Wuruk itu wajib ya harus ada di seluruh Indonesia?? Dia mungkin pahlawan bagi orang Jawa, tapi tidak bagi suku2 yang lainnya

    • panji seto
    • April 4th, 2014

    di tasik kok ada jl. gajahmada? pdhl wilayah sunda.

    • panji seto
    • April 4th, 2014

    kalau pwkt, cilacap, tegal, brebes.. meski bhs nya jawa, tp dulu ikut wilayah kerajaan sunda.

    • Kita ini Bangsa indonesia yang lahir dan dibesarkan di negeri tercinta ini,kita adalah berasal dari Bangsa yang sama berawal dari Bangsa Melayu keturunan austronesia,bahkan seluruh manusia di dunia ini berasal dari satu bapak yang sama yaitu Nabi Adam as…..perbedaan Ras itu mesti disyukuri sebagai jembatan agar diantara kita lebih saling mengenal satu dgn yg lainnya,bukan untuk dijadikan perdebatan apalagi permusuhan…..Ras menandakan adanya satu bukti perkembangbiakan manusia didunia darijaman ke jaman,,,manusia yg lahir dan tumbuh dijaman modern spt skg ini harus berpikir lebih positif,lebih inovatif dan selalu mengedepankan manfaat hidup serta dpt trs menggali apa tujuan dan makna hidup kita yg sesungguhnya.diantara kita hilangkan perbedaan,hilangkan pertikaian dan permusuhan,tumbuhkan paradigma kehidupan baru yg penuh dengan perdamaian serta gotong royong,,,,saling bahu membahu demi terciptanya lingkungan hidup yang penuh kasih sayang dan perdamaian,,,,,Perjalanan kehidupan nenek moyang kita dulu adalah kenangan,jadikan oleh kita sbg cermin pengalaman hidup,,mrk menapaki hidup melalui tahapan jaman seiring perkembangan ilmu yg mrk miliki,,,,

      • MogaDari cermin perjalanan kehidupan mrk saat itulah maka kita ambil yang baiknya dan buang yg buruknya sesuai dengan keyakinan dan agama yang kita masing2……jangan sampai pertikaian yg telah terjadi diantara mrk saat itu memicu tumbuhnya permusuhan diantara kita sbg anak cucu keturunannya,,,,,,justru kita sebagai generasi penerusnya harus mampu lebih baik untuk menciptakan nuansa kehidupan yang penuh dengan persaudaraan serta perdamaian.kita indonesia adalah bangsa yang sama bangsa yg berawal dari satu darah,,,,,,jadikanlah diri kita masing2 sbg generasi keturunan yang mampu menciptakan nuansa perdamaian,aman sejahtera gemah ripah lohjinawi,,,,,,Buanglah jauh2 sifat2 dendam dan permusuhan,,,,pandanglah ke masa yg akan datang langkah perbaikan apa yg mesti kt lakukan dan warisan apa yang patut kt berikan untuk kehidupan anak cucu kita kelak……

  1. Desember 20th, 2009
    Trackback from : sby utus tiga menteri

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: