Bocornya Pidato Rahasia Blackwater Picu Kehebohan 


Founder Blackwater - Eric Prince

Prince melukiskan gambaran global dengan Iran sebagai “pusat keburukkan yang absolut.” Iran, kata Prince, “menginginkan nuklir untuk menjadikan wilayah Teluk kembali seperti Teluk Persia, orang-orang Iran juga memiliki sikap yang sama seperti saat Darius mengendalikan Timur Tengah pada tahun 1.000 Sebelum Masehi. Itulah yang dikejar Iran.”

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Erik Prince, pemilik kekaisaran Blackwater – yang kini berganti nama menjadi Xe, jarang menyampaikan pidato di hadapan umum, dan ketika ia melakukannya, ia selalu berusaha melarang ada wartawan yang datang dan melarang rekaman atau video saat ia menyampaikan pernyataan.

Itulah yang berusaha dilakukan Prince pada tanggal 5 Mei besok, ketika ia berbicara di gedung DeVos sebagai pembicara utama dalam “Festival Tulip Time” di kampung halamannya, Holland, Michigan. Prince mengatakan kepada panitia penyelenggara agar tidak ada pemberitaan mengenai pidatonya, pihak penyelenggara menyetujui larangan tersebut. Para wartawan dan media di Michigan memprotes upaya pelarangan wartawan tersebut.

Meski Prince berupaya menghalang-halangi agar ucapannya tidak sampai ke tangan publik, majalah The Nation mampu mendapatkan rekaman suara dari pidato pribadi Prince di hadapan penonton yang ia kenal. Pidato tersebut sepintas memperlihatkan pandangan Prince yang mengejutkan berikut rencana-rencananya di masa mendatang. Pidato tersebut juga mengungkap rincian aktivitas Blackwater yang sebelumnya belum terungkap. Masyarakat AS memiliki hak mendapatkan informasi melalui liputan media terhadap perusahaan yang 90 persen pemasukannya berasal dari pemerintah AS.

Dalam pidato tersebut, Prince mengusulkan agar pemerintah AS mengirimkan kontraktor swasta bersenjata untuk memerangi “teroris” di Nigeria, Yaman, Somalia dan Arab Saudi, khususnya untuk melawan pengaruh Iran.

Prince mencemooh Konvensi Jenewa dan membeberkan operasi rahasia Blackwater di empat markas garis depan yang dikendalikannya di Afghanistan.

Ia menyebut orang-orang yang memerangi AS di Afghanistan, Irak dan Pakistan adalah “orang barbar” yang “merangkak keluar dari selokan.” Prince juga membeberkan detail dari operasi pada bulan Juli 2009, di mana ia mengklaim bahwa pasukan Blackwater di Afghanistan menyerbu tempat peredaran obat terlarang di Afghanistan. Ia mengatakan Blackwater melakukan beberapa kali serangan udara, meledakkan lokasi tersebut.

Prince berkoar bahwa pasukannya telah melakukan penggerebekan ganja terbesar dalam sejarah operasi antinarkotika. Ia menyebut kinerja beberapa negara NATO di Afghanistan tidak ada gunanya, ia menyarankan sejumlah negara koalisi “sebaiknya berkemas-kemas dan pulang.” Prince juga membahas mengenai kinerja Blackwater di Pakistan, yang tampaknya bertentangan dengan pernyataan resmi pemerintah AS dan Blackwater bahwa Blackwater tidak ada di Pakistan.

Prince juga mengklaim bahwa seorang personel Blackwater menjatuhkan jurnalis Irak yang melemparkan sepatu ke arah Presiden George W. Bush di Baghdad, ia mengkritik Secret Service yang dianggap tidak siap. Dia berkoar bahwa pasukan Blackwater mengalahkan Garda Nasional Lousiana dalam badai Katrina. Ia juga mengklaim bahwa tuntutan hukum dan serangan politik mencegah dirinya agar tidak mengirimkan kapal kemanusiaan yang dapat merespons gempa bumi di Haiti atau tsunami di Indonesia.

Dalam pidato tersebut, Prince beberapa kali terlihat merendahkan pasukan Afghanistan yang dilatih Blackwater. Ia mengatakan Blackwater bahkan harus “mengajari” mereka petunjuk menggunakan toilet dan melakukan lompatan. Pada saat bersamaan, ia mengaku diberitahu para jenderal AS bahwa hasil didikan para pelatih Blackwater “adalah pasukan tempur paling efektif di Afghanisan.” Prince juga mengungkapkan bahwa ia menulis sebuah buku yang dijadwalkan akan rilis pada musim gugur ini.

Pidato tersebut disampaikan pada tanggal 14 Januari di Universitas Michigan di hadapan para pengusaha, komandan dan kadet korps pasukan cadangan (ROTC), dan veteran militer. Pidato yang diber judul “Mengatasi Kesengsaraan: Kepemimpinan di Ujung Tombak” dan disponsori oleh Asosiasi Presiden Muda (YPO), sebuah asosiasi jaringan bisnis yang terdiri dari para eksekutif perusahaan.

Dalam pidatonya, Prince melukiskan gambaran global dengan Iran sebagai “pusat keburukkan yang absolut.” Iran, kata Prince, “menginginkan nuklir untuk menjadikan wilayah Teluk kembali seperti Teluk Persia, orang-orang Iran juga memiliki sikap yang sama seperti saat Darius mengendalikan Timur Tengah pada tahun 1.000 Sebelum Masehi. Itulah yang dikejar Iran.”

Padahal, jika menilik sejarah, Darius dari Persia berkuasa mulai dari tahun 522 Sebelum Masehi hingga tahun 486 Sebelum Masehi.

Menurut Prince, “Iran memiliki rencana besar untuk mengorganisir revolusi Syiah di seluruh kawasan Timur Tengah.” Ia meminta prajurit swasta dari perusahaan macam Blackwater dikirimkan ke negara-negara di Timur Tengah untuk menyerang pengaruh Iran, khususnya di Taman, Somalia dan Arab Saudi. “Tangan-tangan jahat Iran amat terlihat di tempat-tempat itu,” kata Prince. “Anda tidak akan bisa menyelesaikannya dengan menempatkan banyak prajurit berseragam di negara-negara itu. Hal itu terlalu sensitif secara politik. Prajurit bayaran bisa beroperasi di sana dengan meninggalkan jejak yang amat sangat kecil.”

Dalam hal manfaat politik, Prince menyarankan penggunaan kontraktor swasta dalam operasi semacam itu karena menghemat biaya. “Keseluruhan anggaran pertahanan harus dipangkas dan mereka akan mencari cara, mereka harus mendapatkan cara untuk menjadi lebih efisien,” kata Prince. “Selain itu, kontraktor swasta bisa beroperasi dengan menggunakan banyak cara dan meninggalkan jejak yang amat kecil.”

Prince juga mengusulkan penggunaan kontraktor swasta bersenjata di negara Afrika kaya minyak, Nigeria. Prince mengatakan kelompok-kelompok gerilyawan di negara tersebut memperlambat produksi dan penyulingan minyak serta mencuri emas hitam tersebut.

“Ada lebih dari setengah juta barel per hari yang dicuri di sana, yang diorganisir oleh sebuah sindikat kriminal yang amat besar. Bahkan ada bukti bahwa dana tersebut dialirkan pada organisasi-organisasi teroris,” tuding Prince.

“Kelompok-kelompok gerilyawan ini menyerang jalur pipa, Mereka memotong pipa dan mengelas sambungan pipa mereka sendiri. Puluhan ribu barel setiap waktu, mengalirkan 10.000 barel tersebut ke luar lait. Dengan harga $80 per barel, nilainya mencapai $800.000, bukan hasil yang buruk bagi kejahatan terorganisir.”

Prince membantah perdebatan mengenai pengklasifikasian personel Blackwater sebagai “kombatan melanggar hukum” yang tidak pantas dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa. “Anda tahu, orang-orang selalu menanyakan itu kepada saya. ‘Apa kalian tidak khawatir karena kalian tidak dilindungi Konvensi Jenewa dalam (beroperasi) di tempat-tempat seperti Irak, Afghanistan atau Pakistan?’ Saya jawab: tidak, karena orang-orang itu, mereka merangkak keluar dari selokan dan memiliki mentalitas seperti orang dari tahun 1.200. Mereka orang barbar. Mereka tidak tahu di mana Jenewa berada, apalagi mengenai konvensi di kota itu.”

Perlu dicatat bahwa Prince menyebutkan operasi Blackwater di Pakistan, meski pemerintah AS, Paikstan dan Blackwater sendiri membantah hal itu.

Prince mencatat beberapa serangan terhadap pemimpin dunia tahun lalu, khususnya seorang perempuan yang mendorong Paus pada hari Natal dan serangan lemparan patung terhadap Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi, ia mengatakan “Ada pola keamanan yang perlu dipertanyakan belakangan ini.”

Ia kemudian menjabarkan peranan pasukan Blackwater dalam melindungi para pejabat dan diplomat, ia mengklam bahwa salah satu orangnya menjatuhkan jurnalis Irak, Muntadhar al-Zaidi, yang melemparkan sepatu ke arah Presiden Bush di Bahjdad pada Desember 2008. Prince menyebut al-Zaidi sebagai seorang “pengebom sepatu.”

“Sebuah fakta yang tidak banyak diketahui, Anda tahu ketika pengebom sepatu Irak melemparkan sepatunya ke arah Presiden Bush, kami memberikan perlindungan diplomatis, namun kami tidak bertanggung jawab atas keamanan presiden, itu selalu jadi tugas Secret Service. Tapi, kebetulan ada orang kami di belakang ruangan, dan ia melihat lemparan sepatu pertama, ia mengeluarkan senjata dan melihat bahwa itu hanya sepatu. Ia memasukkan kembali senjatanya dan menjatuhkan pria itu sementara Secret Service masih berdiri di sana. Saya punya fotonya, saya akan merilis buku, jadi lihat saja musim gugur ini, di dalamnya Anda akan melihat semua hal yang dilihat para wartawan, orang saya menjatuhkan si pelempar sepatu. Dia tidak ditembak, hanya dijatuhkan.”

Meski memang benar Secret Service mendapat kritikan tajam kala itu karena terlihat tidak mengambil tindakan dalam peristiwa itu, rekaman video dari kejadian itu jelas memperlihatkan seorang jurnalis Irak lainnya, bukan pengawal, yang awalnya menarik al-Zaidi ke lantai. Sejurus kemudian, al-Zaidi langsung dikerumuni sekelompok agen keamanan.

Dalam pidato itu, Prince juga membeberkan operasi Blackwater di Afghanistan. Blackwater telah berada di negara tersebut setidaknya sejak April 2002, ketika perusahaan tersebut dipekerjakan CIA dalam sebuah kontrak rahasia untuk dijadikan keamanan. Sejak saat itu, Blackwater mendapatkan kontrak jutaan dolar dalam bidang keamanan, antinarkotika dan pelatihan. Kontrak itu berasal dari Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan dan CIA. Blackwater melindungi Duta Besar AS Karl Eikenberry dan para pejabat senior AS lainnya, menjaga para personel CIA dan melatih polisi perbatasan Afghanistan.

“Kami membangun empat markas,” kata Prince. Ia menyebut markas-markas itu dengan julukan basis operasi garis depan (FOB). Ia mengatakan markas-markas itu ditempatkan di Afghanistan utara, selatan, timur dan barat. “Spin Boldak di selatan, yag menjadi wilayah pengapalan narkotika besar, di timur, ada FOB Lonestar, yang ada tepat di kaki gunung Tora Bora. Bahkan, jika Anda ber-ski dari puncak gunung Tora Bora, anda bisa ber-ski turun ke markas kami,” tambah Prince. Ia menambahkan, Blackwater juga membangun pangkalan lain di dekat Heart dan sebuah lokasi lainnya. FOB Lonestar terletak kira-kira 15 mil dari perbatasan Pakistan. “Siapa lagi yang berani membangun (FOB) di sepanjang jalur yang dikuasai Taliban dan lokasi terakhir Osama bin Laden terlihat?” kata Prince awal tahun ini.

Mengenai beberapa negara NATO yang menerjunkan pasukan di Afghanistan, Prince mengatakan bahwa mereka tidak punya keinginan untuk bertempur. “Sebagian dari mereka punya, tapi sebagian lainnya tidak.”

“Itu adalah tambal sulam komitmen internasional yang berlainan karena ada yang bisa melakukan pekerjaan dan ada yang tidak. Sebagian besar di antara mereka seharusnya berkemas-kemas dan pulang,” tambah Prince.

Namun, Prince memuji Kanada. “Per orangnya, Kanada telah kehilangan lebih banyak dibandingkan AS di Afghanistan. Mereka bertempur dan mereka melakukannya, jika Anda melihat warga Kanada berterima kasih kepada mereka untuk itu. Para politisi di Kanada menanggung hal berat karena melakukan itu,” kata Prince. Ia tidak menyebutkan fakta bahwa perusahaannya disewa oleh pemerintah Kanada untuk melatih pasukan negara tersebut.

Prince juga menyebutkan bagaimana pasukan udara swasta miliknya (yang dijualnya baru-baru ini) menyelamatkan unit militer AS yang kesulitan di Afghanistan. Menurut Prince, unit tersebut memerangi Taliban dan kehabisan amunisi, mereka memerlukan suplai ulang darurat. “Mungkin, karena beberapa prosedur yang ditulis seorang pengacara di Washington, Angkatan Udara tidak diizinkan terbang dan menjatuhkan barang di lokasi yang tidak disetujui… bahkan untuk unit pasukan yang kehabisan amunisi,” kata Prince. “Jadi mereka menghubungi kami dan meminta orang kami melakukannya. Yang paling mengagumkan dari cerita itu adalah para personel Angkatan Darat betul-betuil meniliskan DZ (Drop Zone) di zona penjatuhan suplai amunisi, sebuah panel oranye besar, di atas kendaraan hummer mereka, dan orang-orang kami meletakkan kiriman pertama di atas hummer. Kami tidak selalu sedekat itu, tapi kala itu sedikit terlalu dekat.”

Prince mengatakan pasukannya melatih 1.300 orang tentara Afghanistan setiap enam minggu. Ia mengaku bangga dalam menghadiri “kelulusan” pasukan Afghanistan yang dilatih Blackwater, ia mengatakan dalam enam minggu tersebut, mereka mengubah para prajurit yang dilatih. “Anda mengambil mereka, dan itu adalah saat pertama dalam hidup mereka, menjadi bagian dari sesuatu dengan kelas satu. Para instruktur tahu apa yang mereka bicarakan, mereka diberi makan, air, ada amunisi untuk senjata mereka. Segalanya berfungsi,” kata Prince. “Pada hari-hari pertama pelatihan, kami harus “mengajari cara penggunaan toilet,” karena sebagian besar di antara mereka bahkan belum pernah melihat toilet duduk sebelumnya,” koar Prince. “Kami mampu mengajari orang-orang dengan mentalitas suku dan, seperti Korps Marinir yang lebih efektif dari siapa pun, melatih orang-orang dari gaya hidup berlainan di seluruh AS lalu menjadikannya Marinir. Kami mencoba cara yang sama di sana dengan mendorong mereka dengan keras. Hal itu lucu, saya harap saya punya rekaman videonya untuk dipertontonkan kepada Anda, bagaimana mereka melompat. Jika Anda melatih seseorang yang sudah 25 tahun dan belum pernah melakukan jumping jack sebelumnya, maka beberapa gerakan mereka terlihat lucu.”

Prince juga mengatakan bahwa ia bertemu banyak jenderal “dan para jenderal itu mengatakan bahwa pasukan Afghanistan yang kami latih adalah pasukan yang paling efektif di Afghanistan.” (dn/rr)

www.suaramedia.com

  1. ok. thanks this info..

    • Vicky Angelina
    • Juli 29th, 2011

    good :)
    tapi sumbernya dari mana?? bisa ngasih detail sumbernya ga? apapun itu, kebetulan saya juga lg butuh data blackwater tuk penelitian saya. thank’s ^_^

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.