Hikmah di balik sesatnya aliran al Qiyadah al Islamiyah dan insyafnya nabi baru

Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. (Al Israa’ : 97)

Beberapa pekan lalu, umat muslim di Indonesia dikejutkan dengan munculnya nabi baru, yang bernama Ahmad Musadeq yang berani merubah bacaan Syahadat. Yang sangat mencengangkan adalah pengikutnya lumayan banyak jika dihitung berdasarkan waktu berdirinya aliran ini, dan bukan hanya banyak, para pengikutnya benar-benar yakin bahwa Ahmad Musadeq adalah nabi baru, sehingga mereka menjadi militan dalam mempertahankan keyakinannya ketika ada beberapa pihak dari umat Muslim yang mencoba menginsyafkan mereka dengan cara sedikit kekerasan atau dengan cara yang kurang menunjukan sikap umat Muslim yang mencintai kedamaian dan menjadikan kekerasan sebagai alternatif terakhir dalam menyelesaikan suatu masalah. Akan tetapi ternyata kekerasan tidak sepenuhnya efektif dalam menginsyafkan mereka, hal ini dikarenakan mereka beranggapan bahwa kekerasan yang mereka alami adalah ujian dari Allah, seperti halnya ujian yang pernah diderita oleh para pengikut Nabi Muhammad Rasulullah.

Seiring dengan berjalannya waktu sejak mucul aliran al Qiyadah al Islamiyah ini kepermukaan, telah menimbulkan tindakan-tindakan kekerasan dan opini-opini yang menurut penulis tidak berimbang, khususnya yang menanggapi masalah-masalah tindak kekerasan yang dilakukan oleh beberapa pihak umat Muslim terhadap pengikut aliran al Qiyadah. Mereka yang mengemukakan opini tersebut hanya menggunakan sudut pandang HAM dari para pengikut al Qiyadah berupa kekebasan beragama, sedang sudut pandang HAM kaum Muslimin terkadang kurang mereka perhatikan, yaitu terganggu kehidupan beragama karena Nabi Muhammad Rasulullah yang menjadi Pemimpin umat dunia dan akhirat kaum Muslimin dihina dan dinodai kebersihan namanya, karena dengan munculnya nabi baru, berarti telah memfitnah bahwa Al Qur’an yang Rasulullah ajarkan adalah dusta.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Ahzab : 40)

Alhamdulillah, saudara Ahmad Musadeq telah menyatakan insyaf, mengakui kesalahannya, kembali memeluk agama Islam dan melepaskan jabatannya sebagai nabi baru. Kejadian-kejadian tersebut sudah selayaknya dijadikan sebagai pelajaran buat penulis pada khususnya dan kaum muslimin pada umumnya, dan kita ambil hikmah yang Insya Allah telah Allah sampaikan kepada kita dibalik kejadian tersebut untuk dijadikan referensi buat kaum muslimin dalam proses perbaikan menuju ke arah kehidupan beragama yang lebih baik.

Ada beberapa hikmah yang menurut penulis bisa umat muslim jadikan refensi dalam kehidupan beragama, yaitu:

Dialog
Jalan dialogis lebih efektif dibandingkan dengan jalan kekerasan, mudah-mudahan tidak terulang kembali kejadian seperti al Qiyadah, akan tetapi sepertinya ajaran sesat akan selalu muncul, bisa dilihat dari sejarah awal penyebaran agama Islam di bumi pertiwi ini, pada jaman Walisongo, ada salah seseorang yang dianggap ajarannya sesat yaitu Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, dan dalam menyelesaikan permasalahnya pun para wali menggunakan jalur dialogis.

Dakwah
Banyaknya pengikut aliran al Qiyadah menunjukan masih lemahnya iman umat muslim Indonesia, hal ini akan membuka peluang yang sangat besar bagi kesuksesan kegiatan beberapa pihak dalam melakukan proses pemurtadadan umat Muslim di Indonesia. Hal ini harus dijadikan koreksi bagi umat muslim khususnya para da’i, ustadz dan ulama yang memiliki kopetensi yang sangat besar dalam memperkuat dan mempertebal keimanan umat muslim Indonesia. Masih banyak lahan dakwah yang harus digarap, belum terlambat untuk kembali konsentrasi membangun dasar-dasar akidah umat yang kuat, walaupun Pemilu dan Pilpres 2009 sudah di depan mata, sudah selayaknya tetap fokus pada masalah akidah umat.

Media informasi
Media informasi, dewasa ini menjadi salah faktor yang sangat penting bagi kehidupan manusia, media informasi yang ada di Indoneisa harus lebih mendukung dalam kegiatan penyampaian dakwah dan memberikan kemudahan bagi umat Muslim Indonesia dalam pembelajaran ilmu Agama. Akan tetapi, yang saat ini terlihat adalah sebaliknya, yaitu justru agama dijadikan suatu komoditas informasi (komersialisasi), sehingga walaupun banyak media informasi khususnya telivisi dan radio, hanya memunculkan dakwah-dakwah yang sifatnya menghibur, bukan difokuskan untuk mempertebal keimanan dan memperdalam ilmu agama itu sendiri, atau dengan kata lain bukan “meng-agama-kan entertainment tapi meng-entertainment-kan agama”. Sehingga kewibawaan seorang da’i dapat di tentukan oleh tingkat kemunculan da’i tersebut dalam infotainment, yang notabene infotainment itu sendiri isinya lebih banyak “gosip” yang dilarang oleh agama. Penulis ambil salah satu contoh kongkret, ada salah seorang da’i yang hanya dikarenakan poligami, seolah-olah menjadi da’i yang tidak patut didengarkan lagi kata-katanya, sehingga pendengarnya pun merosot drastis, hal ini penulis lihat dari tingkat kemunculan da’i tersebut di televisi. Penulis jadikan televisi sebagai ukuran, karena sebuah stasiun televisi akan menampilkan suatu tanyangan berdasarkan suatu rating penonton. Sedangkan poligami itu sendiri menurut hukum Islam adalah sah/halal, tidak dilarang jelas tertulis dalam Al-Qur’an (an Nisaa’ : 3). Dalam sejarah Islam juga pernah terjadi suatu peristiwa sejarah yang mungkin bisa dijadikan referensi dalam menilai masalah tersebut, yaitu pada saat Nabi Muhammad Rasulullah diperintahkan Allah untuk menikahi Zainab binti Jahsy bin Rayyab (al Ahzab: 37) dan hal ini mendapat cemoohan dari kaum kafir dan menimbulkan fitnah bagi umat Muslim yang belum kuat imannya pada jaman itu, hal tersebut karena informasi yang beredar dikalangan umat Muslim sudah bercampur baur dengan fitnah. Jadi sudah saatnya umat Muslim Indonesia menguasai informasi.

Hikmah yang dapat diambil balik sesatnya aliran al Qiyadah al Islamiyah dan insyafnya nabi baru bagi umat Muslim pada umumnya, adalah lebih mempertebal keimanan kita masing-masing, cara yang lebih sederhananya adalah lebih memperdalam ilmu agama yang kita miliki dan memperkuat ukuwah islamiyah, sehingga jika disaat kita “lemah” dan datang tawaran suatu ajaran kepada kita yang seolah-olah menjadi jalan keluar terbaik keluar dari posisi “lemah”, Isnya Allah iman kita akan menolak secara otomatis suatu kesesatan. Amin…

Ballighu ‘anni wa lau ayah…
Wallahu a’lam…

    • zuhdi dr UNP jurusan pendidikan matematika
    • Desember 13th, 2007

    ass………dalam setiap cobaan atau ujian pasti ad tujuan dan hikmahnya yang di berikan oleh alloh swt jd tergantung kita menyikapinya. di mana kita bisa intopeksi bahwa agama yang benar adalah islam dan muhammad adalah rosululloh yg bukan bapak tetapi rosululloh dan penutup segala nabi dan tidak akan ada nabi setelah dia.jadi saya menghimbau ke pada seluruh umat muslim marilah kita selalu ingat kepada alloh swt dan selalu berpegang kepada alhikmah kita yaitu alqur’an dan hadist agar aqidah dan kepercayaan kita tidak di usik dengan apapun.wss………

  1. Sepakat…
    Salam kenal … 🙂

    Terima kasih Pak…
    Salam kenal kembali

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: